Cara Buat Nama Ff Berjarak

Cara Buat Nama Ff Berjarak – 1 Artefak Litik Ceruk Layah, Sampung: Kajian Teknoekonomi Indah Asikin Nurani Kata kunci: perkakas batu, litik, gua, pemukiman, kelangsungan hidup, prasejarah, tipologi Cara mengutip: Nurani, I. A. (2003). Artefak Litik Nisje Layah, Sampung: Kajian Teknoekonomi. Jurnal Arkeologi, 23(1), Jurnal Arkeologi Volume 23 No. 1, 2003, DOI: /jba.v23i1.857 Karya ini dilisensikan dengan Lisensi Internasional Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International.

2 Contoh Sastra Layah, Sampung: Kajian Tekno-Ekonomi lndah Asikin Nurani Pendahuluan Relung Layah merupakan salah satu relung hunian prasejarah yang terletak di kawasan batugamping Kecamatan Sampung, Ponorogo. Sampling bukan lagi nama baru di kalangan arkeolog, karena di lokasi ditemukan gua lava dengan ciri khas berupa industri alat tulang yang dikenal dengan budaya Samping. Berdasarkan hal tersebut, Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan penelitian di kawasan pegunungan kapur ini untuk mengetahui potensi budaya penting dari gua atau ceruk di sekitar Gua Lava. Ceruk Layah terletak di sebelah barat Goa Lava, kira-kira. yang merupakan relung sedalam 5,40 m, panjang m, dengan tinggi langit-langit 3,70 m, terletak pada satuan batugamping-kalkarenit berlapis dari Formasi Samping. Ceruk ini merupakan hasil pengikisan atau pengikisan air permukaan setelah melewati batuan kapur yang berumur sekitar Miosen Atas. Berka/a arkeologi Th. XXII (1)

Cara Buat Nama Ff Berjarak

3 Retakan dan lubang kecil terlihat pada dinding dan langit-langit gua. Hal ini dikarenakan 80% sinar matahari dapat masuk ke dalam gua sehingga proses pelarutan menjadi kecil, sedangkan proses pelapukan cukup tinggi. Endapan tanah di permukaan gua berwarna coklat muda, kelembaban rendah, kurang kompak, dengan ketebalan tanah sekitar 60 cm. Di sekitar goa terdapat banyak batugamping berwarna merah, kuning, coklat dan hijau rijang, kuarsa, kuarsit, yang ukurannya bervariasi dari fragmen ke in situ dan fragmen. Di depan gua mengalir aring hitam yang mengandung bagian intrusi andesit sebagai kontak antara satuan batugamping berkapur kacang dengan batuan intrusi. Arah goa ini ke arah tenggara (N 125 ). Berdasarkan hasil ekskavasi di Ceruk Layah, terlihat adanya perbedaan yang signifikan antara hasil yang diperoleh dari Gua Lawa (Heekeren, 1972) dan Ceruk Layah (Nurani, 2000; 2001; 2002). Perbedaannya terletak pada ragam temuannya, dimana temuan dari gua lava tersebut memiliki berbagai macam benda, baik benda maupun gaung bahkan kerangka manusia. Sedangkan temuan dari Ceruk Layah didominasi oleh benda-benda litik. Fakta ini menimbulkan pertanyaan, apakah ada perbedaan kegunaan antara Gua Lava dan Serok Leah? Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, relevan dengan tesis ini, hal yang paling penting untuk dikaji adalah perkembangan teknologi yang sedang berlangsung terkait pergerakan antara bahan baku (sumber daya alam), pengrajin dan aspek ekonomi. Untuk mengkaji hal tersebut, makalah ini menggunakan pendekatan tekno-ekonomi. Technoeconomy adalah kombinasi dari kata “techno” dan “ekonomi”. Kata “techno” mengacu pada alat dan pengetahuan teknis atau material yang ada di masyarakat dan dapat digunakan. Sedangkan kata “ekonomi” menekankan pengaturan yang dibuat oleh suatu komunitas untuk produksi, distribusi dan konsumsi barang dan jasa, dengan menggunakan alat teknologi dan aturan pengetahuan untuk produksi, distribusi dan pengetahuan. Dalam pengertian yang terbatas secara arbitrer ini, teknologi merepresentasikan bagaimana kemungkinan ini diimplementasikan dalam masyarakat. Ada lima unsur utama dalam budaya sistem tekno-ekonomi, yaitu, cara memperoleh pangan dan cara memproduksi sesuatu untuk memenuhi kebutuhan (how to memproduksi), cara memperoleh barang, bahan dan tenaga kerja, ekonomi Aturan kegiatan, dan pengetahuan yang memungkinkan semua kegiatan ini. (Gibbon, 1984). Konsep ini menunjukkan adanya siklus yang berkesinambungan dan tidak dapat dipisahkan antara sumber daya alam, teknologi dan penggunaan kekuatan fisik dan gagasan untuk menghasilkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan material dan sosial. Teknologi tertentu akan berkembang sesuai dengan lingkungan alam tertentu. XXIII (I)

BACA JUGA :   Nickname Ff Huruf Kecil Di Atas

Disarikan Dari Kitab. Sye^ Sftdfi^^ ^rflfiman ^mu6araf{fiiiy. (pemenang Pertama Lom^ P&mbsan Sgarafi!na6i _ Yang Phada^n 0(efi: ^a$itadji^fam Isjatny’

4 Bagaimanapun. Berkaitan dengan hal tersebut, tulisan ini mencoba menjelaskan dua hal sebagai berikut: Bagaimana potensi sumber daya alam di sekitar wilayah Samping, Ponorogo terpengaruh dalam perkembangan teknologi industri litik, dan bagaimana pengelolaan kegiatan ekonominya? Geologi daerah pengambilan contoh Daerah Samping, terutama di perbukitan kapur, memiliki 16 gua atau relung. Secara geografis, gua ini terletak di perbukitan kapur yang landai dengan Kali Arang di lereng yang lebih rendah. Semua gua/lubang ini tidak memiliki tanda-tanda pendudukan, hanya 6 gua yang memiliki tanda-tanda pendudukan, yaitu 5 gua (Gua Lahar, Gua Totap, Gua Pedipukan, Leh Alco dan Niglin Alco) yang terletak di bagian selatan, dan satu (Gua Ngguvos) ) terletak di bagian utara perbukitan kapur di Samping. Indikasi pendudukan didasarkan pada hasil penggalian dan bentuk gua, serta kondisi geologi di sekitarnya. Bentuk lahan Kabupaten Samping terdiri dari 3 (tiga) bentuk lahan, antara lain dataran aluvial, perbukitan karst dan kaki gunung berapi (Gunung Lao). Dataran aluvial terletak di bagian timur dan utara perbukitan karst, yang digunakan sebagai daerah pemukiman dan persawahan. Lereng karst dicirikan oleh medan yang terjal dengan banyak gua/gua yang tersebar di mana-mana. Pegunungan karst ini membentang dari utara ke selatan, di mana bagian utara pegunungan banyak ditambang. Sayangnya, terdapat sebuah gua (Gua Ngovos) di bagian ini dengan potensi arkeologi yang besar, namun kondisinya sangat memprihatinkan (tingkat kerusakan lebih lanjut akibat penambangan setelah tahun 1923). Lereng karst ini terdiri dari lereng bawah yang berwarna hitam-oranye, sedangkan lereng tengah dan atas terdapat gua-gua. Sebagian besar gua/ceruk merupakan hasil erosi dan pelarutan, sehingga beberapa gua (Gua Gedhe, Gua Dlosar, Gua Newton dan Gua Pratapan 2) terletak secara vertikal dan curam di punggung bukit. Lokasi gua tersebut menunjukkan bahwa gua tersebut tidak berpenghuni, selain sulit diakses, hasil penggalian juga tidak menunjukkan adanya indikasi pendudukan. Sedangkan bentuk lahan di kaki gunung berapi berada di bagian utara perbukitan kapur, saat ini kawasan tersebut digunakan sebagai persawahan dan perkebunan pinus. Stratigrafi daerah Sampong mengacu pada stratigrafi yang dikemukakan oleh Sampomo dan H. Samudra (1991), terlihat bahwa urutan stratigrafi dari tua ke muda adalah Formasi Sarnping, batuan progradasional, lavalava tua dan aluvial (Tabel ) di bawah). Jurnal arkeologi Th. XX/II (1)

BACA JUGA :   Nama Ff Keren No Pasaran

5 Batuan Tebate yang membentuk daerah sumping Zaman Geologi Zonasi Batuan Biru Zaman Kala (1969) Batuan Sedimen a: w HOLOCENTE Sedim en I- Satuan Aluvial a: – – < – ::) PLISTOCENE ~ a END Lawua PLIOSEN Satuan batugamping – Overlay Reef Batuan Terobosan N Batuan Terobosan a: w N 13 MIOSEN I-TENGAH Satuan Batugamping Calcarenite Dacit Sampung 1. Batugamping kalkarenit berfonnasi Sampung Berdasarkan pengamatan di lapangan, batugamping calcarenite umumnya berwarna putih, ukurannya bervariasi dari pasir halus sampai pasir kasar. , tingkat pemisahan dengan wadah terbuka buruk dan memiliki bukaan sedang. Semen di batuan ini adalah semen karbonat dengan banyak fragmen pertanian besar, cangkang moluska, karang, mineral kuarsa, piroksen, dan plagioklas. Terlihat dengan jelas adanya lapisan halus dengan ketebalan antara sentimeter dan struktur sedimen berupa lapisan sejajar dan masif. Pada satuan batugamping-kalkarenit dari Formasi Sumping, napal terintrusi. Marl ini memiliki sifat megaskopik yaitu berwarna putih keabu-abuan, gembur, dengan semen karbonat dan banyak mengandung fosil. Struktur sedimen yang berkembang pada batuan ini berupa lapisan sejajar dengan ketebalan antara 15 sampai 80 cm dan posisi lapisan ini sekitar N90"/El4. Analisis laboratorium mikropaleontologi. fosil foram berupa Globoratalia siakensis, Globoratalia Mayeri, Globigerina praebullides, Globigerinoides sacculifer, Globoratalia obesa, Berlcala Arlceology Th.XXl/1 (1).

6 Globigerinoides subquadratus, Globorotalia menardii dan Orbulina universa. Hal ini menunjukkan bahwa umur lapisan ini adalah Miosen Tengah (N13) dengan lingkungan pengendapan pada lingkungan neritik tengah. Di beberapa tempat terlihat sambungan-sambungan ekspansi yang diisi dengan mineral hidrotermal berupa rijang merah, rijang coklat, rijang hijau dan kuning. Perkembangan ini disebabkan adanya batuan yang membawa larutan hidrotermal, bahkan mineral kuarsa tersingkap, tetapi dalam jumlah yang sangat kecil. 2. Satuan Batugamping Terumbu Fonnasi Sampang Setelah pengendapan Satuan Batugamping Calcarenite, terbentuk Satuan Batugamping Terumbu di atasnya. Batuan gamping ini secara makroskopis berwarna abu-abu kecoklatan-putih-kecoklatan, semen berkarbonasi, kohesif baik dan mengandung fosil. Bahan fosil bentuk tersebut didominasi oleh cangkang moluska, baik cetakan luar maupun dalam dalam forum moluska. Selain itu, keberadaan material karang khususnya alga merah Corallinae merupakan material utama pembentuk warna batuan hidrotermal berupa sekis merah, sekis coklat, sekis hijau, dan batuan kuning yang merupakan batugamping. Terjadi secara luas di batuan. komposisi sampel. Batuan ini menunjukkan struktur berlapis dan membentuk lereng karst berbentuk kerucut dengan ketinggian l 0-40 m sedangkan diendapkan berupa pegunungan neritik dengan gelombang air yang tenang untuk penuaan berdasarkan korelasi stratigrafi vertikal menunjukkan Pleo-Plistosen dengan lingkungan yang terjadi. Di beberapa tempat juga terlihat sambungan-sambungan muai yang diisi dengan mineral hidrotermal berupa rijang merah, rijang coklat, rijang hijau dan kuning. Banyak muncul di permukaan, yaitu dalam pembentukan lapisan. 3. Unit batuan terobosan Karena geotektonik di lempeng samudera, terobosan magma juga terjadi di daerah yang lemah. Tidak terkecuali di daerah Samping juga mengalami hal yang sama, yaitu adanya batuan progradasional berupa batuan beku dengan warna abu-abu muda, kohesi yang baik dan karakteristik kipas yang kasar. Selain itu, batuan ini memiliki derajat kristal holokristalin dengan derajat pembulatan subhedral. Sedangkan komposisi mineralnya meliputi piroksen, hornblende, plagioklas dan kuarsa. Penampakan muka muka di lapangan berupa log, menunjukkan kemiringan dinding muka di sekitarnya dan sebaran spasialnya. mengambil

BACA JUGA :   Hometown Cha Cha Cha Idlix

Nama bagus buat ff, nama yang bagus buat ff, cara buat akun ff, cara buat cit ff, cara buat akun ff server luar, cara buat diamond ff, cara buat cheat ff, cara buat game ff, stiker buat nama ff, cara buat web phising ff, cara buat citer ff, cara buat link phising ff google formulir